Kamis, 12 Mei 2016

💥SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR💥

💥SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR💥 ✨ Peprtolongan Al-Quran di Alam Kubur.
Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya). Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab. Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.” Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita. Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya. Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin..

Kisah Inspiratif



Andai
bisa bicara
Bayi : “ Aku ingin tetap didalam rahim Ibu saja”
Dokter: “ Tidak bisa, kamu harus keluar dari rahim Ibu sukarela maupun terpaksa, alam dunia milyaran kali lebih luas dari alam rahim Ibu.
Engkau akan lihat keindahan alam dunia yang tak pernah engkau lihat sebelumnya , tak pernah engkau dengar sebelumnya”
Bayi : “ Aku tidak percaya, aku tidak melihat apa apa , aku tidak mendengar apa apa.
Aku sudah puas dengan kesenangan alam rahim Ibu, bagiku yang penting tali pusat dialah segalanya bagiku.
Aku tak butuh tangan, aku tak butuh kaki, tak guna mata, tak guna telinga, tak guna mulut.
Tali pusat adalah segalanya bagiku”
Dokter : “Ketika kamu lahir, segera yang akan dipotong pertama kali justru tali pusat.
Tangan , kaki, mata, telinga, mulut mutlaq dibutuhkan untuk kehidupan kamu di dunia”
Maka ketika sang Ibu melahirkan bayinya, benarlah , tali pusat yang selama ini diyakini memberi kesenangan dan kepuasan bagi sang bayi seketika itu juga dipotong.
Meledaklah tangisan sang bayi.
Alhamdulillaah sang bayi lahir dengan sempurna memiliki tangan , kaki, mata , telinga , mulut dan organ organ lain yang sempurna. Maka semuanya berbahagia
Demikianlah gambaran kehidupan dunia, orang orang yang tidak percaya akan alam akhirat yang luasnya milyaran kali alam dunia.
Keni’matan syurga yang tak pernah mata melihatnya, tak pernah telinga mendengarnya.
Baginya yang penting adalah ni’mat dunia, itulah segalanya .
Buat apa sholat, buat apa puasa, tak ada manfaatnya zakat ataupun haji dan ibadah ibadah lainnya.
Ketika ia keluar dari “Rahim” Dunia dengan terpaksa atau sukarela maka ni’mat dunia lah pertama kali yang dipotong.
Tak bisa dibayangkan tangisannya saat memasuki alam kubur lebih dahsyat dari tangisan sang bayi saat ketika lahir ke dunia.
Tak mungkin bisa kembali ke alam dunia sebagaimana sang bayi mustahil akan masuk ke perut Ibu lagi.
Ya Allah sempurnakanlah Iman dan Amal kami sebagaimana engkau telah menyempurnakan Iman dan Amal kekasih kekasih Mu
Ampunilah segala dosa dosa kami baik yang kami sengaja maupun yang tak kami sengaja
Janganlah engkau bebani kami dengan beban yang kami tak sanggup memikulnya.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Rabu, 11 Mei 2016

💥DAHSYATNYA SURAT IKHLASH💥☀


💥DAHSYATNYA SURAT IKHLASH💥
Kisah Pengamal Surat Ikhlash
Pada suatu pagi, Rasulullah SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik ra melihat suatu keanehan di pagi itu. Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya.
Tak lama kemudian, Rasulullah SAW dihampiri oleh malaikat Jibril.
Rasulullah SAW bertanya kepada malaikat Jibril,
"Wahai Jibril, kenapa matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?"
"Ya Rasulullah, matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya," jawab Jibril.
Rasulullah SAW bertanya,
"Wahai Jibril, berapa jumlah malaikat yang menghalangi matahari saat ini?"
"Ya Rasulullah, 70 ribu malaikat," jawab Jibril.
Rasulullah SAW bertanya,
"Apa gerangan yang menjadikan malaikat menutupi matahari?"
Kemudian Malaikat Jibril menjawab,
"Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu."
"Siapakah dia, wahai Jibril?" tanya Rasul SAW.
"Dialah Muawiyah."
Rasulullah SAW bertanya,
"Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?"
Malaikat Jibril menjawab,
"Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al Ikhlas."
Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya,
"Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyah tersebut."
.
Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang penghuni SyurgaMu dan haramkanlah api neraka atas jasadku, kedua orangtuaku, dan semua yg mengucap Aamiin di masukkan ke Jannatulma'wa.
✏___ 📚💫🔆💥🔆

Minggu, 08 Mei 2016

Mbah Manaf, Kiai 65 Tahun yang Mahir Corel Draw Untuk maknai Kitab Kuning

 Wartaislami.Com ~ Sudah sejak 2005, Mbah Abdul Manaf bin Zuhdi (65), yang kini tinggal di Desa Margoyoso Rt. 07 Rw. 03, Kalinyamatan, Jepara, tiap hari selalu di depan laptop memaknai kitab kuning menggunakan Corel Draw, satu-satunya sistem perangkat lunak yang mudah digunakan olehnya untuk menulis arab pegon miring. Dia membereskan baris demi baris kitab kuning agar mudah dipahami para santri dan dai.

Selama 11 tahun menulis itu, kini Mbah Manaf berhasil ngasahi (memaknai gandul arab pegon miring) 5 judul karya ulama klasik hingga berjilid-jilid. Semua kitab yang digarap bertema tentang kewalian, hikmah dan sufisme thariqah. Berikut judulnya:

1.    Jamiul Ushul fil Auliya karya Syeikh Muhammad Zliyauddin Musthafa al al-Kamsyakhanawi an-Naqsyabandi. Kitab aslinya ada 380 halaman, namun setelah digunduli Mbah Munif jadi 4 jilid. 
2.    Karomatul Auliya karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani (Lahir 1256 H). Jumlah halaman: 383. Jadi 3 jilid setelah dicorel Mbah Manaf.
3.    Kitab Kasfudz Dzunnun karangan Haji Kholifah. Halaman aslinya berjumlah ribuan. Baru rampung jadi 2 jilid.
4.    Jawahirul Khomsah karya Syeikh al-Imam al-Allamah al-Hamam Sayyid Muhammad bin Khotiruddin bin Bayazid bin Khowajah. Jadi 2 jilid.
5.    Jauhar Ma’aani, manaqib Syeikh Abdul Qadir Jailani karya Syeikh Jauhari Umar Pasuruan.
6.    Risalah al-Ghazali (dalam proses garap)

Jumlah halamannya bisa berjilid-jilid karena untuk membuat makna gandul pegon, harus ada spasi lumayan lebar. Satu halaman dibuat Mbah Manaf jadi 9 baris. Padahal, aslinya, -sebagaimana pada Jami’ul Ushul fil Auliya,- per halaman terdiri atas 28 baris. Dari satu halaman kitab asli, jadi 3 halaman setelah dimaknai utawi iki iku.

Memilih Versi Corel
Tentu banyak jalan terjal harus ditempuh. Ketika menggarap Kasyfudz Dnunnun misalnya, ada kendala teknis yang membuat stres. Lafadz Allah, kata Mbah Manaf, hilang huruf “Ha”-nya ketika di-print. Padahal hasil ketikan dalam file Corel, mulai Alif, Lam hingga Ha’, utuh semua hurufnya. Penggarapan berhenti hanya 2 jilid karena hal ini.

“Masalahnya ternyata karena saya pakai Corel Draw 14 dengan sistem operasi Windows Seven. Font Traditional Arabic tidak bisa dipakai di sana. Padahal, font lain seperti Arial, Transparent bisa saya pakai. Saya memilih Traditional Arabic karena nyaman dibaca,” tutur Mbah Manaf di rumahnya, Selasa (3 Mei 2016), malam.

Atas pengalaman tersebut, Mbah Manaf menginstal Windows XP untuk menggarap kitabnya. Corelnya tetap pakai versi 14. Cepat loading katanya. Pernah mencoba pakai Corel 17 tapi berat. Windows XP dipilih karena menurutnya lebih bersahabat dengan font arab.

“Misalnya ketika menulis huruf wawu yang digandeng dengan mim atau lainnya. Di Windows Seven terlihat terlalu rapat. Kalau di XP bisa tampak jelas dan kayak ada spasinya gitu, kelihatan bagus jadinya,” terang Mbah Manaf kepada Duta Islam.

Ada dua laptop yang dipakai. Yang terinstal Seven buat berselancar di dunia maya dan berkomunikasi via Facebook. Sementara yang instalan XP khusus untuk menggarap makna gandul kitab kuning.

“Pertama kali dulu saya pakai Corel 9, 10, 11 dan 12. Ternyata semuanya tidak bisa menulis angka Arab. Setelah ganti menggunakan corel 14 dengan windows XP, ternyata bisa dan sangat mudah,” paparnya.

Dalam pemaknaan kitab kuning itu, Mbah Manaf mengawalinya dengan melakukan scan halaman per halaman. Hasilnya di-print untuk kemudian di-harakat-i huruf per hurufnya secara manual. Tindakan ini dipilih untuk mempercepat kerja. Kekeliruan harakat akan dikoreksi lebih lanjut di Corel Draw menggunakan tool bernama Photo Paint, yakni aplikasi buatan Corel yang bisa digunakan untuk pengeditan gambar dan efek foto.

Kendalanya, ada kitab yang sulit discan karena lipatan jilidnya terlalu sempit. Kitab Kasyfudz Dzunnun salah satu contohnya. Bila teks kitab lain tidak berkolom, khusus kitab ini, kata Mbah Manaf, kolomnya ada dua. Scan tidak efektif mencover seluruh teks halaman. “Terpaksa harus pakai versi digital download, lalu diatur pakai Corel. Saya nggarap gandul ya pakai corel. Word tidak bisa dipakai,” ujarnya.   



 Berawal Dari Waktu Luang
Niat Mbah Abdul Manaf memaknai kitab kuning secara digital diawali dari musibah yang menimpa istrinya, Sri Wahyuni. Kala itu, dia harus menunggu istri yang sakit berbulan-bulan tanpa bisa bekerja. Jenuh, akhirnya ia memanfaatkan waktu untuk ngasahi kitabnya secara manual. Ia simpan hasil asahan itu, siapa tahu berguna.

Pertama yang diasahi gandul arab menggunakan tulisan tangan adalah Kitab Jamiul Ushul fil Auliya.. Karena banyak yang tertarik hasil kerja Mbah Manaf itu, ada yang mengusulkan untuk membuat rutinan tiap malam Senin di salah satu rumah warga setempat.

Selama enam tahun rutinan berjalan, Mbah Manaf rajin membagi-bagikan hasil asahan tersebut. Kali ini sudah bukan tulisan tangan. Tapi sudah dalam bentuk cetakan hasil  Corel, printer-an yang sudah difoto-copy sesuai jumlah peserta ngaji rutinan.

Mbah Manaf belajar mengoperasikan corel secara otodidak. Ia mengaku tidak pernah kursus dan belajar sebisanya. Itu dimulai ketika jadi guru dan mengajar di Pondok Pesantren Nailun Najah, Kriyan, Kalinyamatan, Jepara atas perintah gurunya, Mbah Hudun . “Awalnya saya minta diajari bagaimana menghidupkan komputer dan mematikannya,” kenangnya.

Melihat ketekunan Mbah Manaf, ada seorang teman yang kemudian memberinya fasilitas komputer pentium dua secara gratis. Itulah alat pertama yang digunakan untuk melanjutkan kerja kreatifnya memaknai kitab kuning.

Sejak saat itu, ia tidak lagi bekerja jualan jamu godok racikannya sendiri. Dulu, setelah lulus dari ponpes, Mbah Manaf memilih ber-dawa’ (menyembuhkan penyakit dengan obat herbal). Pekerjaannya itu terbilang sukses karena punya banyak pelanggan hingga Sumatra, Banten dan kota-kota lain. Selama jualan jamu, Mbah Manaf rajin merantau.

Jamunya laris. Dalil yang selalu digunakan untuk menarik perhatian pembeli adalah: addawa’u larruju’u ilas syabab. “Lam adalah lam ibtida’, maka harus dibaca rafa’ sesudahnya. Artinya begini utawi obat, iku yekti iso balikake, ilas syabab, maring nom,” tandas Mbah Manaf menerangkan dengan gaya utawi iki iku.

Praktis, banyak kiai dan habaib yang menjadi pelanggan setianya. Terutama dari kalangan dewasa dan orang tua. Mengobati orang sakit, bagi Mbah Manaf, sama pahalanya dengan mengajar atau berdakwah. Dia memilih dawa’ daripada dakwah atas alasan ini.

Demi kitab kuning, Mbah Manaf yang pernah nyantri di Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS) di PP MUS Sarang Rembang periode 1970-1976 ini,  meninggalkan profesinya sebagai penjual jamu godok. Sesekali mengisi pengajian dan jadi guru panggilan khusus belajar kitab kuning, terutama ilmu alat semacam Nahwu dan Sharaf.

Selama bertahun-tahun, Mbah Manaf menjadi guru privat para putra H Mawar, tetangga desa. Semua anak pengusaha itu diwulang ngaji oleh Mbah Nawar hingga khatam Kitab Nahwu bernama Alfiyah empat kali, lanjut ke syarahnya berjudul Ibnu Aqil, Bahjatul Mardliyyah sekaligus syawahid-nya. “Alhamdulilah khatam semua,” kata Mbah Manaf.

Hidup Sederhana
Bersama istrinya, kini Mbah Manaf hidup berdua apa adanya dengan tetap melanjutkan kerja kreatif di depan laptop memaknai kitab kuning. Ada 3 laptop yang ada di ruang tamu, tempat kerjanya yang berukuran kecil. Ketiga laptop tersebut bukan milik pribadinya, melainkan pinjaman dari orang-orang yang peduli.

Mbah Manaf tidak punya cukup uang membeli laptop. “Laptop saya gonta-ganti terus. Tidak pernah beli, silih-silihan (pinjaman, red). Jadi ketika pemilik datang mengambil, saya harus menyerahkan. Pernah pakai laptop anak Kudus malah saya jebolkan IC nya. Pernah dipinjamin pegawai bank asal Pati juga, tapi akhirnya rusak,” akunya.

Laptop saja meminjam, jelas Corel yang dipakai pun tanpa lisensi. Tapi Mbah Manaf tidak menyerah. Hidup serba kekurangan baginya harus tetap bermanfaat. Saking seringnya laptop pinjaman itu rusak, acap kali mendapatkan free biaya servis di beberapa tempat.

“Tukang servis laptop di sini hampir pernah saya datangi semua. Banyak yang kenal. Sering tidak bayar karena kasihan mungkin. Saya kan sudah tua,” terang Mbah Manaf yang ingin belajar Google Map agar tamunya mudah menemukan alamat.

Soal berapa banyak laptop, tinta dan printer yang dihabiskan selama 11 tahun ini, sudah tak terhitung. Dalam 8 bulan saja, pernah 4 kali ganti Cartridge (alat cetak) Printer. Itu belum tumpukan kertas HVS ukuran 80 yang selalu dia beli kalau ada uang. Ketika Duta Islam datang, keyboard laptop di meja kerjanya tidak berfungsi sehingga harus menggunakan keyboard eksternal berwarna hijau. Kumuh dan hampir rusak.

Tidak banyak yang sanggup menservis laptop yang digunakan Mbah Manaf. Hanya beberapa saja yang mampu menyelesaikan problemnya mengingat serba arab. Mbah Manaf jarang mengetik huruf selain arab. Tiga laptop yang ditunjukkan kepada Duta Islam semua keyboard asalnya bertulis arab. Sepertinya, Mbah Manaf memang tipe santri tulen tempoe doeloe yang tiap hari menulis menggunakan arab pegon.



 Instalan Corel, Windows, Printer dan scanning hingga modem merek Alcatel, semua menggunakan bahasa operasional serba arab. Naskahnya disimpan dalam Harddisk Eksternal berkapasitas 500 giga. “Saya menggunakan Corel hanya untuk maknani kitab kuning. Tidak pernah menggunakannya untuk design banner dan lainnya,” tandas Mbah Manaf.

Naskah yang sudah diprint kertas, ia simpan di rak lemari ruang tamu bersama dua kamus berukuran jumbo yang biasa digunakan. Jika sewaktu-waktu ada yang ingin membeli, tinggal difoto-copy dengan warna kuning berukuran 80. Sudah laku puluhan jilid. Yang membeli para ustad dan dai sekitar Jepara. Berkat karyanya, Mbah Manaf pernah diundang Muktamar Thariqoh di Malang.

Jika Anda ingin membeli, harganya lumayan. Itu karena belum dicetak massal. Perjilid harganya Rp. 400.000,-. Anda harus menyiapkan Rp. 4.400.000,- untuk memesan lengkap 11 jilid. Pakai uang muka dulu agar Mbah Manaf bisa ke Kudus untuk memfoto-copy. Nomor hapenya ada di bawah ini. [www.dutaislam.com/m abdullah badri]

------------------------------------
Biografi Singkat Mbah Manaf:
Nama Lengkap          : Abdul Manaf bin Zuhdi
Tempat Lahir             : Kawedanan, Pamotan, Rembang, Jawa Tengah
TTL                            : 16 Mei 1953
Nama Istri                  : Sri Wahyuni
Anak                           : Rahmatullah (meninggal saat lahir tahun 1993), Hamdan (anak  angkat)
Alamat                        : Margoyoso Rt. 07 Rw. 03, Kalinyamatan Jepara (sejak 2000)
Pendidikan                  : Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS) Sarang (1970-1976),   Ponpes Manbaul Khoiriyah Islamiyah (MHI), Bangsalsari, Jember, Jawa Timur.
Nomor Hape              : 085327678159
Facebook                    : Abdul Manaf

BULAN SYA'BAN TELAH TIBA

💥🌙 SYA'BAN TELAH TIBA 🌙💥
Tepat maghrib malam ini, telah datang bulan Sya'ban Rasullullah Bersabda "Barang Siapa Yang Memberitahukan Berita bulan Sya'ban kepada Yang Lain, maka Haram Api Neraka Baginya". Dan tolong baca sebentar saja kita berdzikir mengingat اَللّÙ‡ُ ... bismillah "Subhanallah, Walhamdulillah, Walaa ilaaha ilallah, Allahu-Akbar, Laa haula wala quwata illa billahil aliyil adzim” Bila disebarkan, Anda akan membuat beribu-ribu manusia berzikir kepada Allah SWT آمِّÙŠْÙ†َ آمِّÙŠْÙ†َ آمِّÙŠْÙ†َ ÙŠَا رَبَّ
الْعَالَÙ…ِينَ


Selasa, 03 Mei 2016

Jaga Kesehatan, Van Damme Tiru Gaya Hidup Rasulullah SAW

Jaga Kesehatan, Van Damme Tiru Gaya Hidup Rasulullah SAW


REPUBLIKA.CO.ID, Jean-Claude Van Damme merupakan aktor asal Belgia yang terkenal dengan aksi-aksi laganya. Dengan tubuh yang sangat prima di usia 55 tahun, Van Damme ternyata memiliki cara yang tak diduga dalam menjaga kebugaran tubuhnya. Van Damme mengaku mengikuti kebiasaan hidup dari Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah sesi wawancara, Van Damme ditanya mengenai pola makan yang sehat. Van Damme kemudian menjawab bahwa ia mengikuti pola makan seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam ajaran Islam. "Bacalah. Temuan-temuan dari Muslim, banyak hal baik (di situ). Nabi Muhammad sangat cerdas," ungkap Van Damme mengawali penjelasannya.
Van Damme menilai Nabi Muhammad SAW sebagai sosok yang cerdas karena beliau dapat mengetahui apa yang baik dan tidak baik bagi tubuh di masa depan. Seperti yang telah diketahui, Rasulullah telah mencontohkan gaya hidup yang menghindari makanan atau minuman yang memiliki dampak tidak baik bagi kesehatan tubuh. Salah satu yang dicontohkan ialah alkohol.
"Beliau (Nabi Muhammad) mengetahui apa yang baik untuk masa depan, mengenai tubuh," tambah Van Damme.
Tak hanya sekadar mengikuti gaya hidup ala Rasullullah, Van Damme pun mengajak agar orang-orang untuk membuktikan sendiri manfaat baik dari meniru gaya hidup Rasulullah juga. Bagi Van Damme, semua yang dibutuhkan untuk menjaga kebugaran tubuh telah ada dalam ajaran mengenai pola makan sehat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.
"Percayalah pada saya, kamu mendapatkan semua yang kamu butuhkan di situ," pesan Van Damme. 

Senin, 02 Mei 2016

Demam Ibadah Individual, Lupa Ibadah Sosial

Demam Ibadah Individual, Lupa Ibadah Sosial

Salah satu warisan almarhum Prof. Dr. KH. Ali Musthafa Ya’qub adalah pemikirannya yang cemerlang. Ia mengingatkan bahwa ibadah sosial jauh lebih penting daripada ibadah individual. Berikut kenangan Sumanto al Qurtuby.
Kolom ini saya buat sebagai semacam “in memoriam” untuk mengenang almarhum Prof. Dr. KH Ali Musthafa Ya'qub (1952 – 2016), mantan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Guru Besar Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) Jakarta, tokoh Nahdlatul Ulama, dan seorang ulama pakar Hadis dan Ilmu Hadis yang sangat mumpuni dan langka di Indonesia. Ulama kelahiran Desa Kemiri, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ini juga seorang penulis produktif khususnya di bidang hukum Islam, tafsir Al-Qur'an, dan tafsir Hadis.
Salah satu gagasan dan pemikirannya yang cemerlang, bernas, dan patut direnungkan secara mendalam oleh umat beragama adalah tentang merosotnya spirit atau etos “ibadah sosial” dan meningkatnya atau maraknya perilaku “ibadah personal” atau “ibadah individual” khususnya di kalangan umat Islam, lebih khusus lagi umat Islam di Indonesia.
Menurut Kiai Ali Musthafa yang alumnus Universitas Islam Imam Muhammad Bin Saud dan Universitas King Saud (Riyadh, Arab Saudi) ini, ada dua kategori ibadah dalam Islam, yaitu (1) ibadah qashirah (ibadah individual) yang pahala dan manfaatnya hanya dirasakan oleh pelaku ibadah saja dan (2) ibadah muta'addiyah (ibadah sosial) dimana pahala dan manfaat ibadahnya tidak hanya dirasakah oleh yang bersangkutan tetapi juga oleh orang lain.
Menurut Kiai Ali, contoh “ibadah individual” ini adalah haji, umrah, puasa, salat, dlsb. Sementara contoh “ibadah sosial” adalah menyantuni anak yatim, membantu fakir-miskin, memberi bantuan beasiswa pendidikan, menolong para korban bencana, menggalakkan penanggulangan kemiskinan dan kebodohan, merawat alam dan lingkungan, berbuat baik dan kasih sayang kepada sesama umat dan mahluk ciptaan Tuhan, menghargai orang lain, menghormati kemajemukan, dan masih banyak lagi. Semua itu merupakan bentuk-bentuk ibadah sosial yang memberi manfaat atau kemaslahatan kepada masyarakat banyak.
Ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual
Islam, menurut Kiai Ali, memberikan prioritas pada “ibadah sosial” ini ketimbang “ibadah individual”. Kiai Ali mengutip sebuah Hadis Qudsi yang diriwayatkan Imam Muslim dimana Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Tuhan (Allah SWT) itu ada—dan dapat ditemui—di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita.”
Itulah sebabnya Nabi Muhammad sepanjang hayatnya lebih banyak didedikasikan untuk membela kaum lemah dan tertindas serta melawan keserakahan dan keangkaramurkaan. Beliau lebih banyak menjalankan aneka bentuk ibadah sosial-kemasyarakatan ketimbang ritual-ritual keagamaan yang bersifat personal. Dalam sebuah kaedah fiqih juga dinyatakan: “al-muta'addiyah afdhal min al-qashirah” (ibadah sosial jauh lebih utama daripada ibadah individual).
Prioritas Islam terhadap ibadah sosial daripada ibadah individual ini juga ditegaskan, tersurat, dan tersirat di dalam ribuan ayat-ayat Al-Qur'an yang memberi ruang sangat besar terhadap dimensi-dimensi sosial-kemanusiaan. Aspek-aspek “ritual-ketuhanan” justru mendapat jatah yang sangat sedikit dalam ayat-ayat Al-Qur'an.
Berdasarkan sejumlah fakta dalam Al-Qur'an inilah, ditambah dengan praktik-praktik kenabian, banyak ulama, sarjana, dan pakar Islam yang menyebut Islam sebagai agama pro-kemanusiaan. Pakar kajian Islam dan studi Al-Qur'an seperti mendiang Fazlur Rahman (1919–1988), misalnya, dalam sejumlah karyanya seperti Islam, Prophecy in Islam, atau Major Themes of the Qur'an pernah menegaskan bahwa Islam adalah “agama antroposentris” yang memberi penekanan atau prioritas pada masalah-masalah kemanusiaan universal, dan bukan “agama teosentris” yang berpusat atau bertumpu pada hal-ikhwal yang berkaitan dengan ibadah ritual individual-ketuhanan.
Terperangkap” ke dalam pernik-pernik “ibadah individual”
Meskipun Islam, Al-Qur'an, dan Nabi Muhammad SAW, jelas-jelas memberi ruang yang sangat besar pada masalah-masalah “ritual kemanusiaan” universal; umat Islam, sayangnya, justru lebih sibuk memikirkan dan mempraktikkan aneka “ritual ketuhanan” partikular. Meskipun Islam menegaskan ibadah sosial jauh lebih utama ketimbang ibadah individual, (sebagian) kaum Muslim malah “terperangkap” ke dalam pernik-pernik “ibadah individual”.
Kaum Muslim begitu hiruk-pikuk dan semangat menggelorakan pentingnya haji, salat, puasa, zikir di masjid, dan semacamnya, tetapi melupakan kemiskinan global, kebodohan massal, penderitaan publik, keamburadulan tatanan sosial, kehancuran alam-lingkungan, korupsi akut yang menggerogoti institusi negara dan non-negara, dlsb. Umat Islam begitu bersemangat naik haji berkali-kali atau umrah bolak-balik dan mondar-mandir ke Mekkah dan Madinah, tidak mempedulikan besarnya biaya, tetapi mereka pikun dan tutup mata dengan aneka persoalan sosial-kemanusiaan yang menggunung di depan matanya.
Indonesien Sumanto al Qurtuby
Umat Islam sibuk mengejar “kesalehan individual” dengan menghadiri beragam pengajian spiritual tetapi mengabaikan “kesalehan sosial” dan absen menghadiri “pengajian sosial” dengan blusukan ke tempat-tempat kumuh untuk menyambangi umat yang menderita dan kelaparan. Umat Islam rajin menumpuk pahala akhirat bak “pedagang spiritual” tetapi rabun bin pikun dengan problem sosial-kemasyarakatan yang ada di sekelilingnya. Umat Islam begitu sibuk “memikirkan” Tuhan, padahal Tuhan sendiri—seperti ditunjukkan dalam berbagai Firman-Nya dalam Al-Qur'an dan dalam Hadis Qudsi tadi—begitu “sibuk” memikirkan manusia.
Saya menyebut fenomena di atas sebagai bentuk keberagamaan yang egoistik atau individualistik yang hanya mementingkan diri-sendiri dan demi mengejar kebahagiaan dan keselamatan dirinya sendiri kelak di alam akhirat, sementara cenderung bersikap masa bodoh atau acuh dengan berbagai kebobrokan, penderitaan, ketimpangan, ketidakadilan, dan kesemrawutan yang menimpa umat manusia di alam dunia ini. Umat Islam “pemburu surga” yang egois-individualis dan “salah jalan” inilah yang menjadi sasaran kritik Kiai Ali Musthafa. Semoga beliau damai di alam baka.
Penulis:
Sumanto al Qurtuby, Staf Pengajar Antropologi Budaya dan Kepala General Studies Scientific Research, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi.