Selasa, 17 Mei 2016

Oh.... Oemar Bakri

Di era delapan puluhan, ada dua perasaan yang muncul saat melihat sosok para guru kita ketika kita masih duduk di bangku sekolah; yaitu perasaan kagum dan hormat. Kagum akan luasnya wawasan mereka dan hormat karena begitu berwibawanya mereka. Dan hingga detik ini perasaan itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Hati kita tetap tergetar ketika kenangan tentang mereka melintas di pikiran kita. Sungguh sangat menakjubkan manakala para pahlawan tanpa jasa itu bisa menorehkan perasaan begitu dalam di hati seseorang; bahkan setelah sekian puluh tahun telah berlalu. Entah mantra apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa melakukannya. Terkadang terlintas dalam benak nan usil ini, bahwa para guru kita pada waktu itu mungkin pada pintar ilmu pelet ataupun ilmu pengasihan yang sangat ampuh sehingga mereka mampu memberikan pesona yang tak kunjung pudar bagi siswa-siswinya selama berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin sebelum menjadi seorang guru, mereka pada bertapa di gua-gua untuk mempelajari ajian “Serat Jiwa” dari seorang pendekar yang bernama Eyang Astagina dan diturunkan pada Brama Kumbara sampai pada tingkat 10 (Ingat Serial Sandiwara Radio yang sangat populer di era 80-an), sehingga mereka sangat piawai dalam “meluluh-lantakkan” jiwa anak didiknya sedemikian rupa serta dengan segenap kesaktian yang dimilikinya mampu menorehkan nilai-nilai keluhuran dan prestasi kepada setiap anak-didiknya. Tapi apakah itu jawabannya ???? Ah, ternyata tidak demikian adanya...... Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun 1981, seorang penyanyi yang bernama Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Guru Oemar Bakri”. Lagu ini begitu fenomenal karena berhasil menggambarkan potret guru saat itu, sederhana, tidak sejahtera, lugu namun mampu mencetak banyak generasi sekelas BJ Habibie dan secara tidak langsung menyindir ketidak -pedulian pemerintah yang sedang berkuasa saat itu dan masa-masa sebelumnya. Seperti kita ketahui bersama pula bahwa sebelum era 80-an ini, menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang memprihatinkan, menyedihkan tidak menjanjikan serta harus siap hidup seadanya. Meskipun profesi guru begitu mulia , namun ia bagaikan surga yang tak dirindukan dan hanya dipandang sebelah mata. Berbanding terbalik dengan profesi-profesi lainnya; misalnya profesi dokter yang membuat orang berlomba-lomba dan bersedia untuk membayar berapapun untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran. Seseorang yang pada saat itu bersekolah di lembaga keguruan (SPG /PGA) ataupun kuliah di Fakultas Keguruan, hampir bisa dipastikan dari awal mereka telah memiliki kesadaran bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan nurani, sehingga ketika mereka benar-benar menjadi seorang guru, mereka menjalani profesi tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Walhasil, pada akhirnya pengabdian dan kerja keras serta ketulusan mereka benar-benar terpatri di hati anak-didik mereka. Keikhlasan dan ketulusan inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan para Pahlawan tanpa Tanda Jasa dalam mengukir prestasi serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada setiap murid-muridnya. Seiring dengan berjalannya waktu, profesi guru akhirnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Profesi ini mulai dianggap menjanjikan dan mulai banyak yang mengincarnya. Profesi yang dianggap ideal bagi kaum perempuan karena kegiatan belajar hanya sampai tengah hari dan setelah itu bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Profesi yang sempurna. Secara perlahan namun pasti, profesi ini menjadi harapan dan keinginan banyak orang serta sekaligus menjadi “Surga” yang mulai dirindukan. Dalam perkembangan berikutnya, pada saat profesi “Oemar Bakri” ini mulai menjadi surga yang dirndukan oleh banyak orang; pada saat yang sama, saat ini menjadi guru bagai kembali ke periode sebelumnya dimana ia menjadi surga yang tak dirindukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; diantaranya : Pertama Keberadaan pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan UU tersebut maupun bunyi pasal 3, niat dan tujuannya baik yaitu untuk melindungi setiap anak Indonesia. Namun mungkin penafsirannya yang terlalu luas yang membuat guru menjadi serba salah dan serba terbatas dalam mengkoreksi kesalahan siswa yang dianggap sudah melebihi bata kewajaran. Guru sekarang harus sangat berhati hati dalam menghadapi siswa karena sedikit saja menyentuh tubuh siswa bisa dianggap melanggar pasal 3 ini. Padahal guru juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dalam menjaga emosinya yang terkadang reflex menyentil atau mencubit siswa, dengan niat tidak untuk menyakiti, dan hal ini bisa berujung pada pelaporan kekerasan. Hal ini membuat guru kadang menjadi acuh bahkan bersikap masa bodoh dengan sikap siswa yang bermasalah karena untuk menghindari terpancingnya emosi yang berimbas pada masalah yang lebih besar. Akibatnya, siswa merasa benar sendiri karena sikapnya tidak dikoreksi oleh guru mereka. Mereka tahu betul bahwa hak mereka dilindungi oleh UU perlindungan anak. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi manakala orang tua mereka ataupun pihak-pihak lain memanfaatkan UU ini untuk membela dan memanjakan anak-anak mereka. Mereka sama sekali tak mau tahu bahwa dalam UU yang sama pada pasal 19 juga disebutkan bahwa setiap anak juga memiliki kewajiban untuk menhormati orang tua, wali dan guru. Seharusnya mereka juga menyadari bahwa selain hak mereka yang dilindungi ,mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati guru. Seandainya mereka mengetahui dan mengamalkannya niscaya akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid. Namun pada prakteknya, mereka hanya mengedepankan hak mereka dan lupa bahwa guru di mata agama dan hukum memiliki posisi setara dengan orang tua mereka. Kedua, Guru zaman sekarang adalah guru yang menghadapi generasi manja. Generasi yang dibesarkan oleh teknologi canggih dimana segala sesuatunya bisa didapatkan secara instant dan mudah, sehingga mereka kurang memahami makna perjuangan dan kesabaran. No pain no gain. Generasi yang dapat mengakses informasi seluas-luasnya; bahkan informasi yang belum tentu sesuai untuk usia mereka. Generasi yang memiliki banyak distraksi yang membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Eksistensi dan penampilan menjadi begitu penting dan utama bagi mereka. Update status di media sosial menjadi ritual harian mereka. Bayangkan berapa kali mereka harus mengupdate status mereka dalam kesehariannya. Lalu kapan mereka bisa fokus pada pelajaran ? Walaupun tentu saja pasti ada manfaat yang bisa didapatkan melalui teknologi informasi ini, namun apabila orang tua tidak mau ikut bagian dalam kontrol dan pengawasan, sudah barang tentu lebih banyak menimbulkan kerugian. Belum lagi kalau ditambah dengan berbagai program tayangan televisi yang hanya mementingkan sisi komersil tanpa mempedulikan nasib generasi bangsa. Dengan kata lain, mendidik generasi sekarang jauh lebih kompleks dan menghadapi tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para guru yang mendidik generasi sebelumnya. Begitu kompleksnya permasalahan diluar sana yang membuat siswa menjadi pribadi yang lebih rumit dan sulit untuk dihadapi harus disikapi dengan bijak dan hati hati. Guru harus mampu menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi teman siswa yang bisa memahami kehidupan mereka. Hal ini tidak mudah karena seringkali disaat kita ingin mencoba menjadi teman mereka, mereka cenderung lupa batasan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Guru lah yang harus selalu mengingatkan, akrab tapi tetap santun. Guru juga harus berusaha menjadikan sekolah sebagai rumah kedua siswa yang nyaman dan menciptakan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh siswa adalah sebuah tantangan tersendiri. Meskipun fakta yang ada sudah sedemikian kompleksnya, akan tetapi optimisme dan harapan itu haruslah selalu ada. Apa yang sedang dilakukan dan perjuangkan oleh para guru pada saat sekarang ini memang tidak langsung nampak hasilnya. Saat ini para pendidik kita sedang melukis wajah pendidikan Indonesia yang baru akan terlihat 10 atau 20 tahun mendatang. Mengutip kata-kata bijak yang berbunyi : “Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tak akan kenal dengan tuhanku" ”Saat melihat muridmu menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga”. Maka, tetaplah semangat dan tulus ikhlas dalam mendidik wahai Bapak dan Ibu Guru. Meskipun tantangan sekarang ini semakin berat, namun yakinlah bahwa semakin banyak upaya yang Anda perjuangkan dalam mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang, akan semakin bertambah peluang Anda untuk menuju ke surga. Sampai kapanpun menjadi seorang guru merupakan profesi yang akan menghantarkan kita ke surga yang selalu dirindukan. Semoga ............

Kebohongan Seorang Ibu

Seorang ibu dlm hidupnya banyak berbuat kebohongan : 1. Ketika mau makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, makan lah ibu tdk lapar 2. Saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan/daging untuk anaknya dan berkata, ibu tdk suka ikan/daging, makanlah nak 3. Tengah mlm saat dia sdg menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata,Istirahatlah nak, ibu blm ngantuk 4. Saat anak sudah bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang. 5. Saat anak sdh sukses, menjemput ibunya utk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tggl di sana. 6.Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya menangis, ttp ibu msh bs tersenyum sambil berkata, Jangan menangis nak, ibu tidak apa apa.Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu. Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu slalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tp tdk prnh membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Smoga smua anak di dunia ini bs menghargai setiap kebohongan seorang ibu...karena Beliaulah malaikat nyata yg dikirim TUHAN untuk menjaga kita Berbahagialah orang2 yang masih memiliki ibu dan bahagiakanlah ibu selagi masih ada.

Minggu, 15 Mei 2016

"CARA KH ABDULLAH UBAID MENDIDIK ANAK"

"CARA KH ABDULLAH UBAID MENDIDIK ANAK" Bismillaahir Rohmaanir Rohiim, Sobat PAIMA, KH Abdul Wahid Hasyim, dalam sebuah artikelnya, Abdullah Ubaid sebagai Pendidik pernah menceritakan, pada suatu hari datanglah bertamu salah seorang sahabatnya bernama KH Abdullah Ubaid dengan membawa seorang putranya berusia kira-kira 3 atau 4 tahun. Dihidangkanlah minuman teh 3 cangkir, satu untuk Kyai Ubaid, satu untuk putranya dan satu lagi untuk tuan rumah. Terjadilah pembicaraan antara Kyai Ubaid dan anaknya. Sang anak meminta agar ayahnya mengambilkan minuman. Dijawab, agar ia mengambil sendiri karena minuman berada di dekatnya. Sang anak tetap meminta ayahnya yang mengambilkan karena takut kalau-kalau cangkir terjatuh lalu pecah. Kyai Ubaid, salah satu perintis berdirinya Gerakan Pemuda Ansor itu tetap menyuruhnya mengambil sendiri sambil membesarkan hatinya, bahwa kalau memegangnya hati-hati Insya Allah tidak akan jatuh. Sang anak masih menawar lagi agar diambilkan ayahnya karena tehnya panas. Kyai Ubaid menenangkan hatinya agar bersabar beberapa saat karena teh akan dingin dengan sendirinya. Selama pembicaraan antara Kyai Ubaid dengan puteranya, Kyai Wahid hanya berdiam diri, tidak ikut campur tangan. Baca juga : KH Sahal Mahfudh Kyai Wahid dan tamunya saling melepaskan senyumnya setelah dilihat bahwa akhirnya sang anak bisa minum sendiri tanpa bantuan orang lain. Kedua-duanya puas dengan hasil pendidikan kilat ini, dan tak kurang-kurang puasnya adalah sang anak sendiri yang ternyata dengan amat mudahnya bisa menghilangkan rasa hausnya dengan kemampuan sendiri. Dari sekelumit peristiwa sederhana ini Kyai Wahid, dalam artikel yang termuat dalam Sejarah Hidup KHA Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar tersebut menilai Kyai Ubaid sebagai sebuah contoh dari seorang ayah yang pandai mendidik puteranya. Sejak usia 3 atau 4 tahun puteranya sudah ditanamkan rasa percaya kepada diri sendiri dan mulai diajarkan tentang arti bersabar. Bersabar dalam arti tetap menjaga etiket seorang tamu yang kurang pantas menuangkan air teh di atas piring hanya karena ingin agar teh yang masih panas itu segera menjadi dingin. Baca juga : KH Saifuddin Zuhri KH Syaifuddin Zuhri, dalam Guruku Orang-Orang dari Pasantren, menilai bahwa melalui artikel tersebut Kyai Wahid bukan saja memandang Kyai Ubaid sebagai seorang pendidik tetapi sekaligus seorang pemimpin yang memberikan jalan keluar kepada puteranya dengan menyuruh sedikit bersabar, karena teh dengan sendirinya akan menjadi dingin dan mudah untuk di minum oleh anak-anak. Ruchman Basori, dalam The Founding Father Pasantren Modern Indonesia; Jejak Langkah KHA Wahid Hasyim, menilai dari cerita di atas dapat diambil intisari yang penting, yang dapat dijadikan prinsip-prinsip dalam pendidikan yaitu: 1. Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian; 2. Kesabaran; 3. Pendidikan adalah proses, tidak serta merta; 4. Keberanian; 5. Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Baca juga : KH Muhammad Hasyim Asy'ari Lebih lanjut, juga masih dalam tulisan itu, Kyai Wahid menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya yaitu: 1. Sejak kecil hendaknya anak-anak dilatih dan dibiasakan bekerja dengan tenaga dan kemampuannya sendiri sehingga akan tumbuh kepercayaan diri. 2. Sejak kecil dibiasakan tidur sendiri dipisahkan dari orang tua. 3. Apabila si anak sudah agak besar perlu dibuatkan kamar, tempat pakaian yang terpisah dengan saudara-saudaranya yang lain untuk melatih tanggung jawab, sehingga diharapkan ketika besar nanti dapat mengurus rumah tangganya dengan baik. Demikian di antara metode mendidik anak sesuai dengan perkembangan jiwanya. Pendidikan yang baik bukan hanya bertumpu pada lembaga pendidikan, melainkan diawali dari pendidikan yang baik di dalam keluarga dengan orangtua sebagai pendidiknya.

Jumat, 13 Mei 2016

"BERSAHABAT DENGAN UJIAN"

"BERSAHABAT DENGAN UJIAN" Ada orang yang diuji dengan PASANGAN-nya, Ada orang yang diuji dengan BELUM DAPAT JODOH, Ada orang yang diuji dengan KESEHATAN-nya, Ada orang yang diuji dengan BELUM PUNYA MOMONGAN, Ada orang yang diuji dengan KARIR-nya, Ada orang yang diuji dengan PARAS-nya, Ada orang yang diuji dengan KESUKSESAN-nya, Ada orang yang diuji dengan KESULITAN REJEKI-nya, Ada orang yang diuji dengan SEGALA KEMUDAHAN, Ada orang yang diuji dengan KESEDIHAN AKIBAT KEKECEWAAN, Dan ada juga orang yang diuji dengan ANAK dan KETURUNANNYA. Jangan pikir hanya kita seorang yang diuji oleh-NYA. Jangan tanya kepada-NYA, "Ya Allah, mengapa harus aku ??? Mengapa semua terjadi padaku ???" Ketika Allah SwT memberi beban dipundak, jangan bertanya mengapa kita diberi yang berat. Tapi mintalah agar pundak kita mampu untuk memikulnya. Yakinlah akan ada KEMUDAHAN setelah KESULITAN. Allah SwT memberi kita Ujian ini karena Allah SwT mengetahui bahwa kita mampu. Tetaplah Istiqamah meski Iman kita kadang melemah ... Jangan pernah menghindar, Jangan pernah lari, Hadapi semua ini dengan Tawakkal, Nikmati semua ini dengan Istighfar, Mungkin ini kasih sayang Allah SwT dalam bentuk Nikmat yang lain, Insya Allah ... Aamiin Ya Robb

✨FENOMENA KEHIDUPAN☀✨

✨FENOMENAKEHIDUPAN☀✨ "Suatu keniscayaan dalam kehidupan yang membawa implikasi perubahan setelah masuknya Whats App, Facebook, Instagram BBM dan yang lainnya dalam kehidupan ? Hal ini merupakan "Ghazwul fikri" yang menyerang akal, namun sangat disayangkan kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari norma Islam yang lurus dan dari dzikir kepada Allah. Kenapa hati kita mengeras? Itu karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan, dan juga kejadian2 yang di share.. Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tak lagi takut pada sesuatupun. Oleh karena itulah, hati kita menjadi mengeras bagai batu. Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ? Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whats App saja, seakan kita bertemu mereka setiap hari. Padahal bukan begitu tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam (Kita perlu datang secara phisik, mengucap salam, bersalaman, membawa oleh-oleh, saling ingat mengingatkan, nasehat menasehati, saling doa mendoakan, dll). Kenapa kita sangat sering mengghibah (ngrumpi), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun. Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dan dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya. Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu. Sangat disayangkan, kita telah menjadi pecandu... Kita makan, handphone ada ditangan kiri kita. Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman. Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone ada di tangan pula. Sedang mengemudi kendaraan, HP juga di tangan. Sampai-sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone. "Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini. Karena sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal betapa kita merasa sangat kehilangan... Ah, andai perasaan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul (pembacaan) Qur'an kita..." Adakah dari kita yang mengingkari hal ini? Dan siapa yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya, setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah menjadi pecandu? Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur? Apakah HP? Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal2 yang menyibukkan kita dari dien (agama) kita. Karenanya kita tidak tahu, berapa lamakah sisa umur kita". Allah berfirman: “Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. QS.Thoha: 124. Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan... Jangan disembunyikan nasihat ini, agar tidak menjadi seseorang yang menyembunyikan ilmu... _*Mari kita isi WA Ini dg hal hal yang bermakna!*_ 📚 Disarikan dari khutbah Jum'at di Masjidil haram.

Kamis, 12 Mei 2016

💥SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR💥

💥SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM KUBUR💥 ✨ Peprtolongan Al-Quran di Alam Kubur.
Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya). Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan. Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab. Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ia berpaling kepada sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan. Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.” Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita. Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya. Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin..

Kisah Inspiratif



Andai
bisa bicara
Bayi : “ Aku ingin tetap didalam rahim Ibu saja”
Dokter: “ Tidak bisa, kamu harus keluar dari rahim Ibu sukarela maupun terpaksa, alam dunia milyaran kali lebih luas dari alam rahim Ibu.
Engkau akan lihat keindahan alam dunia yang tak pernah engkau lihat sebelumnya , tak pernah engkau dengar sebelumnya”
Bayi : “ Aku tidak percaya, aku tidak melihat apa apa , aku tidak mendengar apa apa.
Aku sudah puas dengan kesenangan alam rahim Ibu, bagiku yang penting tali pusat dialah segalanya bagiku.
Aku tak butuh tangan, aku tak butuh kaki, tak guna mata, tak guna telinga, tak guna mulut.
Tali pusat adalah segalanya bagiku”
Dokter : “Ketika kamu lahir, segera yang akan dipotong pertama kali justru tali pusat.
Tangan , kaki, mata, telinga, mulut mutlaq dibutuhkan untuk kehidupan kamu di dunia”
Maka ketika sang Ibu melahirkan bayinya, benarlah , tali pusat yang selama ini diyakini memberi kesenangan dan kepuasan bagi sang bayi seketika itu juga dipotong.
Meledaklah tangisan sang bayi.
Alhamdulillaah sang bayi lahir dengan sempurna memiliki tangan , kaki, mata , telinga , mulut dan organ organ lain yang sempurna. Maka semuanya berbahagia
Demikianlah gambaran kehidupan dunia, orang orang yang tidak percaya akan alam akhirat yang luasnya milyaran kali alam dunia.
Keni’matan syurga yang tak pernah mata melihatnya, tak pernah telinga mendengarnya.
Baginya yang penting adalah ni’mat dunia, itulah segalanya .
Buat apa sholat, buat apa puasa, tak ada manfaatnya zakat ataupun haji dan ibadah ibadah lainnya.
Ketika ia keluar dari “Rahim” Dunia dengan terpaksa atau sukarela maka ni’mat dunia lah pertama kali yang dipotong.
Tak bisa dibayangkan tangisannya saat memasuki alam kubur lebih dahsyat dari tangisan sang bayi saat ketika lahir ke dunia.
Tak mungkin bisa kembali ke alam dunia sebagaimana sang bayi mustahil akan masuk ke perut Ibu lagi.
Ya Allah sempurnakanlah Iman dan Amal kami sebagaimana engkau telah menyempurnakan Iman dan Amal kekasih kekasih Mu
Ampunilah segala dosa dosa kami baik yang kami sengaja maupun yang tak kami sengaja
Janganlah engkau bebani kami dengan beban yang kami tak sanggup memikulnya.
Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.