Sabtu, 28 Mei 2016

Profesionalisme Guru Agama

Oleh KH MA Sahal Mahfudh Masalah pendidikan, khususnya yang menyangkut agama Islam selalu menghadapi tantangan dan problematika yang tidak kunjung henti. Ia senantiasa aktual dengan berbagai perkembangan dan perubahan kehidupan manusia, karena ia memang merupakan kebutuhan inheren bagi kehidupan manusia sebagai sarana mempertahankan "karamah" yang diberikan oleh Allah. <>Meskipun karamah manusia diberikan menyatu dengan eksistensinya, secara fungsional ia tidak bisa berkembang secara alami, melainkan harus melalui proses. Satu-satunya jalan untuk itu adalah melalui pendidikan. Manusia menurut Rasulullah dilahirkan di atas fitrah, suci dan bersih. Ketika masih di alam arwah, ia telah berikrar mengakui ketuhanan Allah. Tetapi Rasulullah sendiri kemudian mengisyaratkan kemungkinan adanya perubahan, tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dan mengarahkan. Pendidikan agama Islam paling tidak mempunyai fungsi esensial, yaitu mempertahankan eksistensi fitrah manusia itu dan mengembangkannya sedemikian rupa. *** Pendidikan Islam pada dasarnya adalah proses pembentukan watak, sikap dan perilaku Islami yang meliputi iman (aqidah), Islam (syari'at) dan ihsan (akhlaq, etika dan tasawuf). Tujuan pokoknya adalah mempersiapkan peserta didik agar mampu menjadi khalifah Allah yang akram (mulia) yang berarti lebih bertakwa kepada Allah dan yang shalih dalam arti mampu mengelola, mengembangkan dan melestarikan alam. Fungsi mereka sebagai khalifah adalah pertama, ibadatullah baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial, di mana di dalam komunitas berbangsa, mereka juga dituntut oleh ajaran Islam untuk memberikan manfaat kepada orang lain dalam kerangka ibadah sosial. Fungsi kedua ‘imaratul ardli, yakni membangun bumi ini dengan berbagai upaya untuk menunjang kebutuhan hidup sebagai sarana melakukan ibadah dalam rangka mencapai tujuan hidupnya, yakni sa'adatud darain. Selain itu, dari sudut pandang yang lain, pendidikan keagamaan merupakan manifestasi dan upaya peningkatan kualitas kemanusiaan, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, manusia yang beriman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab. Rumusan itu jelas menunjukkan, kualitas manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta berbudi luhur menupakan tujuan yang mesti dicapai melalui pendidikan keagamaan. Sementara itu, UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, memilahkan pendidikan agama menjadi dua bentuk yang berbeda, yaitu: • Bidang studi pendidikan agama sebagai bagian dari kurikulum/program lembaga pendidikan umum. • Lembaga-lembaga pendidikan dengan ciri khas keagamnan, yang dikelola oleh pemerintah mau pun masyarakat. Pada bentuk pertama, di samping pendidikan agama mempunyai porsi yang relatif kecil, sering pula dipahami dan diimplementasikan sebagai pengajaran agama. Dengan metode tertentu, pengajaran agama itu bersifat kognitif dan kecil sekali sumbangannya dalam membentuk kepribadian peserta didik. Bila pendidikan dipahami sebagai suatu tindakan sadar untuk membentuk watak dan tingkah laku secara sistematis, terencana dan terarah, maka pendidikan agama Islam harus merupakan sistem yang mengarah pada terbentuknya karakter, sikap dan perilaku peserta didik yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Dengan kata lain, pendidikan Islam seharusnya bisa mengembangkan kualitas keberagamaan Islam baik yang bersifat affektif, kognitif maupun psiko-motorik. Pada gilirannya, pendidikan Islam merupakan produk pengembangan kepribadian muslim Indonesia yang sedang menghadapi berbagai bentuk transformasi. Pengembangan kepribadian muslim yang berarti proses interaksi dari serangkaian kegiatan dan pendukung pendidikan itu, kini menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan yang paling mendasar adalah keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja. Pendidikan selalu dianggap tidak menjanjikan terbentuknya manusia produktif, manusia siap kerja, mampu bersaing dalam mencapai taraf hidup yang memadai. Ini berarti bahwa pertimbangan praktis dan pragmatis lebih mendominasi kehidupan, termasuk juga pendidikan, dengan mengabaikan pertimbangan idealistik spiritual. Pengembangan sebagai proses seperti dimaksud di atas, dititiktekankan pada perubahan sikap dan wawasan sesuai dengan perkembangan komunitas yang ada. Pengembangan itu harus bisa mendinamisasi gagasan, ide baru dan penyebarannya dengan pendekatan yang tepat. Dan sebagai program, ia harus merupakan kegiatan yang terencana dan tertanam dalam suatu bingkai manajerial yang profesional. *** Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar”. Dalam hadits lain Rasulullah menegaskan, "Barang siapa mendidik seorang anak kecil hingga ia mampu mengucapkan kalimat laa ilaaha illa Allah, maka Allah tidak akan menghisabnya kelak". Sementara Allah dalam surat al-Jumu'ah ayat 2 berfirman: "Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah. Dan benar-benar mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata". Meskipun pengajar dan pendidik mempunyai konotasi yang berbeda, namun masing-masing mempunyai fungsi yang seharusnya tidak bisa terpisah dari guru. Rangkaian dua hadits dan ayat Al-Qur’an di atas, secara esensial menunjukkan hal itu. Dari sini, banyak ulama yang kemudian merumuskan kriteria guru, baik dan sifat, sikap dan kepribadian serta wataknya. Secara umum, paling tidak seorang guru harus memiliki beberapa sifat, yaitu: zuhud, ikhlas, suka mema’afkan, memahami tabi'at murid, berkepribadian yang bersih, bersikap sebagaimana bapak terhadap anaknya dan menguasai mata pelajaran yang menjadi bidangnya. Lebih lanjut, Imam al-Ghazali mengembangkan rumusan tersebut, sebagaimana termaktub dalam Ihya ‘Ulumuddin berikut ini. Pertama, kerja mengajar dan membimbing/mendidik adalah tugas seorang guru. Sifat pokok yang harus dimiliki guru adalah kasih sayang dan lemah lembut. Pergaulan murid dengan guru akan melahirkan sikap percaya kepada diri sendiri dan rasa tenteram bersama gurunya. Hal ini sangat membantu murid menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya. Karenanya, guru hendaknya berperan sebagai ayah atas anak didiknya, bahkan hak guru atas anak didiknya lebih daripada hak ayah atas anaknya. Kedua, meminta upah dalam mengajar adalah sesuatu yang perlu ditinjau lebih lanjut. Dalam sejarah Yunani Kuno, seorang guru yang mendapat gaji ternyata tidak mendapatkan penghormatan yang cukup dari masyarakat. Dalam hal ini al-Ghazali berkata: “Barang siapa mencari harta dengan ilmu pengetahuan, maka ia seperti orang yang mengusap alat penggosok dengan mukanya sendiri untuk membersihkannya. Maka terjadilah penjungkirbalikan, majikan menjadi pelayan dan pelayan menjadi majikan". Rumusan ini dalam konteks kekinian memang akan menimbulkan kontroversi berkepanjangan, kemudian terjadilah lingkaran setan yang tak pernah selesai. Pertimbangan bahwa guru adalah manusia biasa yang secara ekonomis tidak bisa tidak harus mencari nafkah bagi kehidupannya, adalah merupakan pemikiran tersendiri yang tidak bisa diabaikan. Ia menuntut kita, sebagai insan pendidik untuk merenungkannya lebih lanjut. Ketiga, hendaknya guru mampu menjadi pembimbing yang jujur dan terpercaya bagi muridnya. Juga hendaknya ia senantiasa menanamkan keyakinan pada hati murid bahwa menuntut ilmu hanyalah semata untuk mendekatkan diri kepada Allalh, bukan kesombongan, mencari harta dan kedudukan, pamer ilmu, bersilat lidah, bertengkar dan berdebat. Keempat, guru tidak layak menyebarluaskan kekurangan dan kesalahan murid karena akan merangsang timbulnya protes murid secara demonstratif. Mereka akan dihantui rasa bersalah yang bisa membuat mereka protes sebagai cara mempertahankan diri. Arahan, teguran dan juga bimbingan guru dapat disampaikan dengan penuh kasih sayang tanpa emosi. Kelima, karena guru adalah teladan yang diikuti oleh murid, maka sejadini ia harus memiliki keluhuran budi dan toleransi. Konsekuensinya, seorang guru harus menghormati ilmu-ilmu di luar spesialisasinya. Begitu pula ia tidak boleh fanatik terhadap disiplin ilmunya sendiri. Keenam, guru harus menyesuaikan kemampuan intelektual murid dalam menyampaikan pengajaran. Nabi Isa AS pernah bersabda: “Jangan mengalungkan seuntai kalung mutiara kepada seekor babi". Dan Allah sendiri menegaskan: "Dan janganlah kamu memberikan kepada orang yang belum sempurna harta mereka, apa yang ada pada kekuasaanmu". Ketujuh, guru harus mendalami faktor-faktor kejiwaan sang murid. Karena itu tidak layak bagi seorang guru untuk menyampaikan pikiran-pikiran kontroversial yang bisa membingungkan murid, utamanya dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama. Kedelapan, di samping sebagai orang yang ‘alim, guru juga harus 'amil. Dalam hal ini, guru harus mempunyai kesungguhan untuk merealisasikan apa yang diajarkannya, tidak hanya sanggup berbicara saja. Dalam surat al-Baqarah ayat 44 Allah bersabda: "Apakah engkau suruh orang berbuat baik, sementara engkau lupakan dirimu sendiri”. *** Dari sudut pedagogis, guru yang ideal itu mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai obyek (terdidik) dan sebagai subyek (pendidik). Kedua fungsi yang melekat pada diri guru ini harus sama-sama aktif. Oleh karenanya guru dalam posisi atau fungsi apapun dituntut untuk berwatak kreatif, produktif, dan inovatif. Dalam setiap kondisi dan situasi ia haruslah selalu dalam proses yang dinamis, tidak monoton. Sifat monoton dapat menumbuhkan situasi statis. Di sini peningkatan kemampuan seorang guru jelas hanya akan tergantung pada sejauh mana proses tersebut di atas dapat diwujudkan secara terus menerus untuk mencapai suatu tujuan yang terkait dengan bidang studi mau pun lembaga (sekolah) tempat ia mengajar. Sebagai guru agama Islam ia terikat oleh tujuan bidang studinya, baik tujuan instruksional mau pun tujuan umum termasuk tujuan pribadi. Yang dimaksud tujuan pribadi adalah penanaman atau sosialisasi karakter atau kepribadian (syakhshiyah), sehingga dengan demikian seorang guru agama Islam dituntut berkarakter yang baik. Watak bagi seorang guru agama Islam seperti di atas sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak didik yang Islami, yaitu kepribadian yang diorientasikan pada al-akhlaq al-karimah dan keimanan serta keislaman yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini pendekatan yang paling penting adalah pendekatan keteladanan seorang guru. Unsur pendidikan di sini harus lebih dominan daripada unsur pengajaran, karena pembentukan watak karakteristik yang disebut kepribadian lebih dipengaruhi oleh cara pendekatan persuasif yang berbeda-beda, berdasarkan pluralitas latar belakang ego para peserta didik. Pembentukan karakter murid kurang tepat menggunakan pendekatan instruksional dengan metodologi pengajaran tunggal. Di sini sering terjadi kerancuan antara pendekatan pendidikan yang mengarah pada pembentukan kepribadian dengan pendekatan pengajaran yang mengarah pada pembentukan intelektualitas. Akibatnya ialah terbentuknya intelektual yang tidak berkepribadian atau terbentuknya kepribadian tanpa daya intelektual. Maka keterpaduan antara keduanya harus ditingkatkan agar terbentuk manusia yang qowiyyun amiinun. Manusia al-amin yang sarat dengan kepribadian Islami sekaligus manusia al-qowiy yang sarat dengan intelektualitas, potensi dan profesi. *) Diambil dari KH MA Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS). Tulisan ini pernah disampaikan pada seminar sehari Guru Pendidikan Agama Islam Sekolah Dasar se-Kabupaten Jepara, 3 Juni 1993. Judul asli "Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Islam dan Pembentukan Pribadi Siswa".

Jumat, 20 Mei 2016

(وقال عليه الصلاة والسلام: {مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ، فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ} قالها ثلاث مرات

HILANGNYA ILMU DAN MENYEBARNYA KEBODOHAN Diantara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan menyebarnya kebodohan. Dijelaskan dalam ash-Shahiihain dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ. ‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah hilangnya ilmu dan tersebarnya kebodohan.’” [1] Al-Bukhari meriwayatkan dari Syaqiq, beliau berkata, “ِAku pernah bersama ‘Abdullah dan Abu Musa, keduanya berkata, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ لأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ. ‘Sesungguhnya menjelang datangnya hari Kiamat akan ada beberapa hari di mana kebodohan turun dan ilmu dihilangkan.’” [2] Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ. ‘Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan semakin banyak.’”[3] Ibnu Baththal berkata, “Semua yang terkandung dalam hadits ini termasuk tanda-tanda Kiamat yang telah kita saksikan secara jelas, ilmu telah berkurang, kebodohan nampak, kebakhilan dilemparkan ke dalam hati, fitnah tersebar dan banyak pembunuhan.” [4] Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengomentari ungkapan itu dengan perkataannya, “Yang jelas, sesungguhnya yang beliau saksikan adalah banyak disertai adanya (tanda Kiamat) yang akan datang menyusulnya. Sementara yang dimaksud dalam hadits adalah kokohnya keadaan itu hingga tidak tersisa lagi keadaan yang sebaliknya kecuali sangat jarang, dan itulah isyarat dari ungkapan “dicabut ilmu”, maka tidak ada yang tersisa kecuali benar-benar kebodohan yang murni. Akan tetapi hal itu tidak menutup kemungkinan adanya para ulama, karena mereka saat itu adalah orang yang tidak dikenal di tengah-tengah mereka.” [5] Dicabutnya ilmu terjadi dengan diwafatkannya para ulama. Dijelaskan dalam hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu anhuma, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّـى إِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. ‘Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari para hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama, sehingga ketika tidak tersisa lagi seorang alim, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.’” [6] An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencabut ilmu dalam hadits-hadits terdahulu yang mutlak bukan menghapusnya dari hati para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah pembawanya meninggal, dan manusia menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemutus hukum yang memberikan hukuman dengan kebodohan mereka, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”[7] Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur-an dan as-Sunnah, ia adalah ilmu yang diwariskan dari para Nabi Allaihissallam, karena sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan dengan kepergian (wafat)nya mereka, maka hilanglah ilmu, matilah Sunnah-Sunnah Nabi, muncullah berbagai macam bid’ah dan meratalah kebodohan. Adapun ilmu dunia, maka ia terus bertambah, ia bukanlah makna yang dimaksud dalam berbagai hadits. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا. “Lalu mereka ditanya, kemudian mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat lagi menyesatkan orang lain.” Kesesatan hanya terjadi ketika bodoh terhadap ilmu agama. Para ulama yang sebenarnya adalah mereka yang mengamalkan ilmu mereka, memberikan arahan kepada umat, dan menunjuki mereka jalan kebenaran dan petunjuk, karena sesungguhnya ilmu tanpa amal adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan akan menjadi musibah bagi pemiliknya. Dijelaskan pula dalam riwayat al-Bukhari: وَيَنْقُصُ الْعَمَلُ. “Dan berkurangnya pengamalan.” [8] Imam adz-Dzahabi rahimahullah ulama besar ahli tarikh (sejarah) Islam berkata setelah memaparkan sebagian pendapat ulama, “Dan mereka tidak diberikan ilmu kecuali hanya sedikit saja. Adapun sekarang, maka tidak tersisa dari ilmu yang sedikit itu kecuali sedikit saja pada sedikit manusia, sungguh sedikit dari mereka yang mengamalkan ilmu yang sedikit tersebut, maka cukuplah Allah sebagai penolong bagi kita.” [9] Jika hal ini terjadi pada masa Imam adz-Dzahabi, maka bagaimana pula dengan zaman kita sekarang ini? Karena setiap kali zaman itu jauh dari masa kenabian, maka ilmu pun akan semakin sedikit dan banyak kebodohan. Sesungguhnya para Sahabat Radhiyallahu anhum adalah orang yang paling tahu dari umat ini, kemudian para Tabi’in, lalu orang yang mengikuti mereka, dan merekalah sebaik-baik generasi, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ. “Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku, kemudian yang setelahnya, kemudian yang setelahnya.” [10] Ilmu senantiasa terus berkurang, sementara kebodohan semakin banyak, sehingga banyak orang yang tidak mengenal kewajiban-kewajiban dalam Islam. Diriwayatkan dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: يَدْرُسُ اْلإِسْلاَمُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لاَ يُدْرَى مَا صِيَامٌ، وَلاَ صَلاَةٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ وَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ k فِـي لَيْلَةٍ فَلاَ يَبْقَى فِي اْلأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ: الشَّيْخُ الْكَبِيرُ، وَالْعَجُوزُ، يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ؛ يَقُولُونَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ فَنَحْنُ نَقُولُهَا: فَقَالَ لَهُ صِلَةُ: مَا تُغْنِي عَنْهُمْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَهُمْ لاَ يَدْرُونَ مَا صَلاَةٌ، وَلاَ صِيَامٌ، وَلاَ نُسُكٌ، وَلاَ صَدَقَةٌ فَأَعْرَضَ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ رَدَّدَهَا عَلَيْهِ ثَلاَثًا، كُلَّ ذَلِكَ يُعْرِضُ عَنْهُ حُذَيْفَةُ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْهِ فِي الثَّالِثَةِ، فَقَالَ: يَا صِلَةُ! تُنْجِيهِمْ مِنَ النَّارِ، ثَلاَثًا. “Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan pada pakaian sehingga tidak diketahui lagi apa itu puasa, tidak juga shalat, tidak juga haji, tidak juga shadaqah. Kitabullah akan diangkat pada malam hari hingga tidak tersisa di bumi satu ayat pun, yang tersisa hanyalah beberapa kelompok manusia: Kakek-kakek dan nenek-nenek, mereka berkata, ‘Kami men-dapati nenek moyang kami (mengucapkan) kalimat ini, mereka mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah’, maka kami pun mengucapkannya. Lalu Shilah [11] berkata kepadanya, “(Kalimat) Laa Ilaaha Illallaah tidak berguna bagi mereka, sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu shalat, tidak juga puasa, tidak juga haji, dan tidak juga shadaqah. Lalu Hudzaifah berpaling darinya, kemudian beliau mengulang-ulangnya selama tiga kali. Setiap kali ditanyakan hal itu, Hudzaifah berpaling darinya, lalu pada ketiga kalinya Hudzaifah menghadap dan berkata, “Wahai Shilah, kalimat itu menyelamatkan mereka dari Neraka (sebanyak tiga kali).” [12] ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata: لَيُنْزَعَنَّ الْقُرْآنُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِكُمْ، يُسْرَى عَلَيْهِ لَيْلاً، فَيَذْهَبُ مِنْ أَجْوَافِ الرِّجَالِ، فَلاَ يَبْقَى مِنْهُ شَيْءٌ. “Sungguh, al-Qur-an akan dicabut dari pundak-pundak kalian, dia akan diangkat pada malam hari, sehingga ia pergi dari kerongkongan orang-orang. Maka tidak ada yang tersisa darinya di bumi sedikit pun.” [13] Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Di akhir zaman (al-Qur-an) dihilangkan dari mushhaf dan dada-dada (ingatan manusia), maka tidak ada yang tersisa satu kata pun di dada-dada manusia, demikian pula tidak ada yang tersisa satu huruf pun dalam mushhaf.” [14] Lebih dahsyat lagi dari hal ini adalah Nama Allah tidak disebut lagi di atas bumi. Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits Anas Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي اْلأَرْضِ: اللهُ، اللهُ. “Tidak akan datang hari Kiamat hingga di bumi tidak lagi disebut: Allah, Allah.” [15] Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat tentang makna hadits ini: Pendapat pertama : Bahwa seseorang tidak mengingkari kemunkaran dan tidak melarang orang yang melakukan kemunkaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengibaratkannya dengan ungkapan “tidak lagi disebut: Allah, Allah” sebagaimana dijelaskan sebelumnya dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma : فَيَبْقَى فِيهَا عَجَاجَةٌ لاَ يَعْرِفُونَ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُونَ مُنْكَرًا. ‘Maka yang tersisa di dalamnya (bumi) hanyalah orang-orang bodoh yang tidak mengetahui kebenaran dan tidak mengingkari kemunkaran.’ [16] Pendapat kedua : Sehingga tidak lagi disebut dan dikenal Nama Allah di muka bumi. Hal itu terjadi ketika zaman telah rusak, rasa kemanusiaan telah hancur, dan banyaknya kekufuran, kefasikan juga kemaksiatan.” [17]

Rabu, 18 Mei 2016

*Puisi terakhir WS Rendra* *beliau buat sesaat sebelum beliau wafat* Hidup itu seperti *UAP*, yang sebentar saja kelihatan, lalu lenyap !! Ketika Orang memuji *MILIKKU*, aku berkata bahwa ini *HANYA TITIPAN* saja. Bahwa mobilku adalah titipan-NYA, Bahwa rumahku adalah titipan-NYA, Bahwa hartaku adalah titipan-NYA, Bahwa putra-putriku hanyalah titipan-NYA ... Tapi mengapa aku tidak pernah bertanya, *MENGAPA DIA* menitipkannya kepadaku? *UNTUK APA DIA* menitipkan semuanya kepadaku. Dan kalau bukan milikku, apa yang seharusnya aku lakukan untuk milik-NYA ini? Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-NYA? Malahan ketika diminta kembali, _kusebut itu_ *MUSIBAH,* _kusebut itu_ *UJIAN*, _kusebut itu_ *PETAKA*, _kusebut itu apa saja ..._ Untuk melukiskan, bahwa semua itu adalah *DERITA*.... Ketika aku berdo'a, kuminta titipan yang cocok dengan *KEBUTUHAN DUNIAWI*, _Aku ingin lebih banyak_ *HARTA*, _Aku ingin lebih banyak_ *MOBIL*, _Aku ingin lebih banyak_ *RUMAH*, _Aku ingin lebih banyak_ *POPULARITAS*, _Dan kutolak_ *SAKIT*, _Kutolak KEMISKINAN,_ Seolah semua *DERITA* adalah hukuman bagiku. Seolah *KEADILAN* dan *KASIH-NYA*, harus berjalan seperti penyelesaian matematika dan sesuai dengan kehendakku. Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita itu menjauh dariku, Dan nikmat dunia seharusnya kerap menghampiriku ... Betapa curangnya aku, Kuperlakukan *DIA* seolah _Mitra Dagang_ ku dan bukan sebagai *Kekasih!* Kuminta *DIA* membalas _perlakuan baikku_ dan menolak keputusan-NYA yang tidak sesuai dengan keinginanku ... _Duh ALLAH ..._ Padahal setiap hari kuucapkan, _Hidup dan Matiku, Hanyalah untuk-MU ya ALLAH, AMPUNI AKU, YA ALLAH ..._ Mulai hari ini, ajari aku agar menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam setiap keadaan dan menjadi bijaksana, mau menuruti kehendakMU saja ya ALLAH ... Sebab aku yakin *ENGKAU* akan memberikan anugerah dalam hidupku ... *KEHENDAKMU* adalah yang ter *BAIK* bagiku .. Ketika aku ingin hidup *KAYA*, aku lupa, bahwa *HIDUP* itu sendiri adalah sebuah *KEKAYAAN*. Ketika aku berat utk *MEMBERI*, aku lupa, bahwa *SEMUA* yang aku miliki juga adalah *PEMBERIAN*. Ketika aku ingin jadi yang *TERKUAT*, aku lupa, bahwa dalam *KELEMAHAN*, Tuhan memberikan aku *KEKUATAN*. Ketika aku takut *Rugi*, Aku lupa, bahwa *HIDUPKU* adalah sebuah *KEBERUNTUNGAN*, kerana *AnugerahNYA.* Ternyata hidup ini sangat indah, ketika kita selalu *BERSYUKUR* kepadaNYA Bukan karena hari ini *INDAH* kita *BAHAGIA*. Tetapi karena kita *BAHAGIA*, maka hari ini menjadi *INDAH*. Bukan karena tak ada *RINTANGAN* kita menjadi *OPTIMIS*. Tetapi karena kita optimis, *RINTANGAN* akan menjadi tak terasa. Bukan karena *MUDAH* kita *YAKIN BISA*. Tetapi karena kita *YAKIN BISA*.! semuanya menjadi *MUDAH*. Bukan karena semua *BAIK* kita *TERSENYUM*. Tetapi karena kita *TERSENYUM*, maka semua menjadi *BAIK*, Tak ada hari yang *MENYULITKAN* kita, kecuali kita *SENDIRI* yang membuat *SULIT*. Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, cukuplah menjadi *JALAN SETAPAK* yang dapat dilalui orang. Bila kita tidak dapat menjadi matahari, cukuplah menjadi *LENTERA* yang dapat menerangi sekitar kita. Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, maka *BERDOALAH* untuk kebaikan. *BERKAH DALEM* Semoga bermanfaat...

Selasa, 17 Mei 2016

Oh.... Oemar Bakri

Di era delapan puluhan, ada dua perasaan yang muncul saat melihat sosok para guru kita ketika kita masih duduk di bangku sekolah; yaitu perasaan kagum dan hormat. Kagum akan luasnya wawasan mereka dan hormat karena begitu berwibawanya mereka. Dan hingga detik ini perasaan itu tetap sama, tak berubah sedikitpun. Hati kita tetap tergetar ketika kenangan tentang mereka melintas di pikiran kita. Sungguh sangat menakjubkan manakala para pahlawan tanpa jasa itu bisa menorehkan perasaan begitu dalam di hati seseorang; bahkan setelah sekian puluh tahun telah berlalu. Entah mantra apa yang mereka miliki sehingga mereka bisa melakukannya. Terkadang terlintas dalam benak nan usil ini, bahwa para guru kita pada waktu itu mungkin pada pintar ilmu pelet ataupun ilmu pengasihan yang sangat ampuh sehingga mereka mampu memberikan pesona yang tak kunjung pudar bagi siswa-siswinya selama berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin sebelum menjadi seorang guru, mereka pada bertapa di gua-gua untuk mempelajari ajian “Serat Jiwa” dari seorang pendekar yang bernama Eyang Astagina dan diturunkan pada Brama Kumbara sampai pada tingkat 10 (Ingat Serial Sandiwara Radio yang sangat populer di era 80-an), sehingga mereka sangat piawai dalam “meluluh-lantakkan” jiwa anak didiknya sedemikian rupa serta dengan segenap kesaktian yang dimilikinya mampu menorehkan nilai-nilai keluhuran dan prestasi kepada setiap anak-didiknya. Tapi apakah itu jawabannya ???? Ah, ternyata tidak demikian adanya...... Seperti kita ketahui bersama bahwa pada tahun 1981, seorang penyanyi yang bernama Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal dengan nama Iwan Fals menciptakan sebuah lagu yang berjudul “Guru Oemar Bakri”. Lagu ini begitu fenomenal karena berhasil menggambarkan potret guru saat itu, sederhana, tidak sejahtera, lugu namun mampu mencetak banyak generasi sekelas BJ Habibie dan secara tidak langsung menyindir ketidak -pedulian pemerintah yang sedang berkuasa saat itu dan masa-masa sebelumnya. Seperti kita ketahui bersama pula bahwa sebelum era 80-an ini, menjadi seorang guru merupakan sebuah profesi yang memprihatinkan, menyedihkan tidak menjanjikan serta harus siap hidup seadanya. Meskipun profesi guru begitu mulia , namun ia bagaikan surga yang tak dirindukan dan hanya dipandang sebelah mata. Berbanding terbalik dengan profesi-profesi lainnya; misalnya profesi dokter yang membuat orang berlomba-lomba dan bersedia untuk membayar berapapun untuk bisa kuliah di jurusan kedokteran. Seseorang yang pada saat itu bersekolah di lembaga keguruan (SPG /PGA) ataupun kuliah di Fakultas Keguruan, hampir bisa dipastikan dari awal mereka telah memiliki kesadaran bahwa menjadi seorang guru adalah sebuah panggilan nurani, sehingga ketika mereka benar-benar menjadi seorang guru, mereka menjalani profesi tersebut dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih. Walhasil, pada akhirnya pengabdian dan kerja keras serta ketulusan mereka benar-benar terpatri di hati anak-didik mereka. Keikhlasan dan ketulusan inilah yang menjadi kunci utama keberhasilan para Pahlawan tanpa Tanda Jasa dalam mengukir prestasi serta menanamkan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada setiap murid-muridnya. Seiring dengan berjalannya waktu, profesi guru akhirnya tidak lagi dipandang sebelah mata. Profesi ini mulai dianggap menjanjikan dan mulai banyak yang mengincarnya. Profesi yang dianggap ideal bagi kaum perempuan karena kegiatan belajar hanya sampai tengah hari dan setelah itu bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Profesi yang sempurna. Secara perlahan namun pasti, profesi ini menjadi harapan dan keinginan banyak orang serta sekaligus menjadi “Surga” yang mulai dirindukan. Dalam perkembangan berikutnya, pada saat profesi “Oemar Bakri” ini mulai menjadi surga yang dirndukan oleh banyak orang; pada saat yang sama, saat ini menjadi guru bagai kembali ke periode sebelumnya dimana ia menjadi surga yang tak dirindukan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal; diantaranya : Pertama Keberadaan pasal 3 Undang-Undang Perlindungan Anak yang berbunyi “Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera”. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan UU tersebut maupun bunyi pasal 3, niat dan tujuannya baik yaitu untuk melindungi setiap anak Indonesia. Namun mungkin penafsirannya yang terlalu luas yang membuat guru menjadi serba salah dan serba terbatas dalam mengkoreksi kesalahan siswa yang dianggap sudah melebihi bata kewajaran. Guru sekarang harus sangat berhati hati dalam menghadapi siswa karena sedikit saja menyentuh tubuh siswa bisa dianggap melanggar pasal 3 ini. Padahal guru juga manusia biasa yang memiliki kelemahan dalam menjaga emosinya yang terkadang reflex menyentil atau mencubit siswa, dengan niat tidak untuk menyakiti, dan hal ini bisa berujung pada pelaporan kekerasan. Hal ini membuat guru kadang menjadi acuh bahkan bersikap masa bodoh dengan sikap siswa yang bermasalah karena untuk menghindari terpancingnya emosi yang berimbas pada masalah yang lebih besar. Akibatnya, siswa merasa benar sendiri karena sikapnya tidak dikoreksi oleh guru mereka. Mereka tahu betul bahwa hak mereka dilindungi oleh UU perlindungan anak. Kondisi ini menjadi lebih parah lagi manakala orang tua mereka ataupun pihak-pihak lain memanfaatkan UU ini untuk membela dan memanjakan anak-anak mereka. Mereka sama sekali tak mau tahu bahwa dalam UU yang sama pada pasal 19 juga disebutkan bahwa setiap anak juga memiliki kewajiban untuk menhormati orang tua, wali dan guru. Seharusnya mereka juga menyadari bahwa selain hak mereka yang dilindungi ,mereka juga memiliki kewajiban untuk menghormati guru. Seandainya mereka mengetahui dan mengamalkannya niscaya akan terjalin hubungan yang baik antara guru dan murid. Namun pada prakteknya, mereka hanya mengedepankan hak mereka dan lupa bahwa guru di mata agama dan hukum memiliki posisi setara dengan orang tua mereka. Kedua, Guru zaman sekarang adalah guru yang menghadapi generasi manja. Generasi yang dibesarkan oleh teknologi canggih dimana segala sesuatunya bisa didapatkan secara instant dan mudah, sehingga mereka kurang memahami makna perjuangan dan kesabaran. No pain no gain. Generasi yang dapat mengakses informasi seluas-luasnya; bahkan informasi yang belum tentu sesuai untuk usia mereka. Generasi yang memiliki banyak distraksi yang membuat mereka sulit untuk berkonsentrasi pada pelajaran. Eksistensi dan penampilan menjadi begitu penting dan utama bagi mereka. Update status di media sosial menjadi ritual harian mereka. Bayangkan berapa kali mereka harus mengupdate status mereka dalam kesehariannya. Lalu kapan mereka bisa fokus pada pelajaran ? Walaupun tentu saja pasti ada manfaat yang bisa didapatkan melalui teknologi informasi ini, namun apabila orang tua tidak mau ikut bagian dalam kontrol dan pengawasan, sudah barang tentu lebih banyak menimbulkan kerugian. Belum lagi kalau ditambah dengan berbagai program tayangan televisi yang hanya mementingkan sisi komersil tanpa mempedulikan nasib generasi bangsa. Dengan kata lain, mendidik generasi sekarang jauh lebih kompleks dan menghadapi tantangan yang lebih berat bila dibandingkan dengan para guru yang mendidik generasi sebelumnya. Begitu kompleksnya permasalahan diluar sana yang membuat siswa menjadi pribadi yang lebih rumit dan sulit untuk dihadapi harus disikapi dengan bijak dan hati hati. Guru harus mampu menjadi sumber pengetahuan sekaligus menjadi teman siswa yang bisa memahami kehidupan mereka. Hal ini tidak mudah karena seringkali disaat kita ingin mencoba menjadi teman mereka, mereka cenderung lupa batasan apa yang boleh dilakukan dan tidak. Guru lah yang harus selalu mengingatkan, akrab tapi tetap santun. Guru juga harus berusaha menjadikan sekolah sebagai rumah kedua siswa yang nyaman dan menciptakan proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan dirindukan oleh siswa adalah sebuah tantangan tersendiri. Meskipun fakta yang ada sudah sedemikian kompleksnya, akan tetapi optimisme dan harapan itu haruslah selalu ada. Apa yang sedang dilakukan dan perjuangkan oleh para guru pada saat sekarang ini memang tidak langsung nampak hasilnya. Saat ini para pendidik kita sedang melukis wajah pendidikan Indonesia yang baru akan terlihat 10 atau 20 tahun mendatang. Mengutip kata-kata bijak yang berbunyi : “Kalau bukan karena guruku, niscaya aku tak akan kenal dengan tuhanku" ”Saat melihat muridmu menjengkelkan dan melelahkan, maka hadirkanlah gambaran bahwa satu diantara mereka kelak akan menarik tanganmu menuju surga”. Maka, tetaplah semangat dan tulus ikhlas dalam mendidik wahai Bapak dan Ibu Guru. Meskipun tantangan sekarang ini semakin berat, namun yakinlah bahwa semakin banyak upaya yang Anda perjuangkan dalam mempersiapkan generasi emas di masa yang akan datang, akan semakin bertambah peluang Anda untuk menuju ke surga. Sampai kapanpun menjadi seorang guru merupakan profesi yang akan menghantarkan kita ke surga yang selalu dirindukan. Semoga ............

Kebohongan Seorang Ibu

Seorang ibu dlm hidupnya banyak berbuat kebohongan : 1. Ketika mau makan, jika makanan kurang, Ia akan memberikan makanan itu kpd anaknya dan berkata, makan lah ibu tdk lapar 2. Saat makan, Ia selalu menyisihkan ikan/daging untuk anaknya dan berkata, ibu tdk suka ikan/daging, makanlah nak 3. Tengah mlm saat dia sdg menjaga anaknya yg sakit, Ia berkata,Istirahatlah nak, ibu blm ngantuk 4. Saat anak sudah bekerja, mengirimkan uang untuk ibu. Ia berkata, Simpanlah untuk keperluanmu nak, ibu masih punya uang. 5. Saat anak sdh sukses, menjemput ibunya utk tinggal di rumah besar, Ia lantas berkata, Rumah tua kita sangat nyaman, ibu tidak terbiasa tggl di sana. 6.Saat menjelang tua, ibu sakit keras, anaknya menangis, ttp ibu msh bs tersenyum sambil berkata, Jangan menangis nak, ibu tidak apa apa.Ini adalah kebohongan terakhir yg dibuat ibu. Tidak peduli seberapa kaya kita, seberapa dewasanya kita, ibu slalu menganggap kita anak kecilnya, mengkhawatirkan diri kita tp tdk prnh membiarkan kita mengkhawatirkan dirinya. Smoga smua anak di dunia ini bs menghargai setiap kebohongan seorang ibu...karena Beliaulah malaikat nyata yg dikirim TUHAN untuk menjaga kita Berbahagialah orang2 yang masih memiliki ibu dan bahagiakanlah ibu selagi masih ada.

Minggu, 15 Mei 2016

"CARA KH ABDULLAH UBAID MENDIDIK ANAK"

"CARA KH ABDULLAH UBAID MENDIDIK ANAK" Bismillaahir Rohmaanir Rohiim, Sobat PAIMA, KH Abdul Wahid Hasyim, dalam sebuah artikelnya, Abdullah Ubaid sebagai Pendidik pernah menceritakan, pada suatu hari datanglah bertamu salah seorang sahabatnya bernama KH Abdullah Ubaid dengan membawa seorang putranya berusia kira-kira 3 atau 4 tahun. Dihidangkanlah minuman teh 3 cangkir, satu untuk Kyai Ubaid, satu untuk putranya dan satu lagi untuk tuan rumah. Terjadilah pembicaraan antara Kyai Ubaid dan anaknya. Sang anak meminta agar ayahnya mengambilkan minuman. Dijawab, agar ia mengambil sendiri karena minuman berada di dekatnya. Sang anak tetap meminta ayahnya yang mengambilkan karena takut kalau-kalau cangkir terjatuh lalu pecah. Kyai Ubaid, salah satu perintis berdirinya Gerakan Pemuda Ansor itu tetap menyuruhnya mengambil sendiri sambil membesarkan hatinya, bahwa kalau memegangnya hati-hati Insya Allah tidak akan jatuh. Sang anak masih menawar lagi agar diambilkan ayahnya karena tehnya panas. Kyai Ubaid menenangkan hatinya agar bersabar beberapa saat karena teh akan dingin dengan sendirinya. Selama pembicaraan antara Kyai Ubaid dengan puteranya, Kyai Wahid hanya berdiam diri, tidak ikut campur tangan. Baca juga : KH Sahal Mahfudh Kyai Wahid dan tamunya saling melepaskan senyumnya setelah dilihat bahwa akhirnya sang anak bisa minum sendiri tanpa bantuan orang lain. Kedua-duanya puas dengan hasil pendidikan kilat ini, dan tak kurang-kurang puasnya adalah sang anak sendiri yang ternyata dengan amat mudahnya bisa menghilangkan rasa hausnya dengan kemampuan sendiri. Dari sekelumit peristiwa sederhana ini Kyai Wahid, dalam artikel yang termuat dalam Sejarah Hidup KHA Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar tersebut menilai Kyai Ubaid sebagai sebuah contoh dari seorang ayah yang pandai mendidik puteranya. Sejak usia 3 atau 4 tahun puteranya sudah ditanamkan rasa percaya kepada diri sendiri dan mulai diajarkan tentang arti bersabar. Bersabar dalam arti tetap menjaga etiket seorang tamu yang kurang pantas menuangkan air teh di atas piring hanya karena ingin agar teh yang masih panas itu segera menjadi dingin. Baca juga : KH Saifuddin Zuhri KH Syaifuddin Zuhri, dalam Guruku Orang-Orang dari Pasantren, menilai bahwa melalui artikel tersebut Kyai Wahid bukan saja memandang Kyai Ubaid sebagai seorang pendidik tetapi sekaligus seorang pemimpin yang memberikan jalan keluar kepada puteranya dengan menyuruh sedikit bersabar, karena teh dengan sendirinya akan menjadi dingin dan mudah untuk di minum oleh anak-anak. Ruchman Basori, dalam The Founding Father Pasantren Modern Indonesia; Jejak Langkah KHA Wahid Hasyim, menilai dari cerita di atas dapat diambil intisari yang penting, yang dapat dijadikan prinsip-prinsip dalam pendidikan yaitu: 1. Percaya kepada diri sendiri atau prinsip kemandirian; 2. Kesabaran; 3. Pendidikan adalah proses, tidak serta merta; 4. Keberanian; 5. Prinsip tanggung jawab dalam menjalankan tugas. Baca juga : KH Muhammad Hasyim Asy'ari Lebih lanjut, juga masih dalam tulisan itu, Kyai Wahid menyampaikan hal-hal yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya yaitu: 1. Sejak kecil hendaknya anak-anak dilatih dan dibiasakan bekerja dengan tenaga dan kemampuannya sendiri sehingga akan tumbuh kepercayaan diri. 2. Sejak kecil dibiasakan tidur sendiri dipisahkan dari orang tua. 3. Apabila si anak sudah agak besar perlu dibuatkan kamar, tempat pakaian yang terpisah dengan saudara-saudaranya yang lain untuk melatih tanggung jawab, sehingga diharapkan ketika besar nanti dapat mengurus rumah tangganya dengan baik. Demikian di antara metode mendidik anak sesuai dengan perkembangan jiwanya. Pendidikan yang baik bukan hanya bertumpu pada lembaga pendidikan, melainkan diawali dari pendidikan yang baik di dalam keluarga dengan orangtua sebagai pendidiknya.